Sabtu, 29 Juli 2017

I am Sorry

29 Juli 2017

Pagiku kujalani seperti biasa, menanyakan kabarnya menantinya dengan segenap rasa rindu yang menggebu di hatiku.
Hari ini seharusnya dia libur, tapi ada kegiatan sekolah yang mengharuakan dia merelakan hari liburnya. "Apa yang sedang dia lakukan pagi ini ya?" pertanyaan yang terlintas begitu saja di benakku, membersihkan rumah? Memasak makanan? Mandi? Aku selalu membayangkan dia melakukan hal itu du pagi hari.

Aku memutuskan untuk pergi keluar selagi menunggu dia selesai dengan kegiatannya di sekolah, bermain game seperti biasanya.
Sebelum dia berangkat, aku sudah terlebih dulu pergi ke luar, meskipun sudah sampai disana, aku tidak segera bermain, aku tidak akan meninggalkannya sebelum dia pamit untuk berangkat.
Pagi itu dia begitu cantik, aku nelihatnya dari foto yang dikirimkannya, dengan jilbab putih dan kacamata yang dikenakannya, aku pun tersenyum begitu saja, terlebih lagi dia mengenakan manset ditangannya, begitu senang aku melihatnya, dia mau menjaga dirinya. Aku tidak tau mengapa, aku begitu cengeng, hal itu membuat cairan bening ini ingin mengalir, bukan karena sedih, tapi begitu senangnya diriku.

Sebelum waktu dzuhur aku audah terlebih dulu pulang, di kamar menanti pesan darinya, aku memiliki firasat sebentar lagi dia akan ada pesan darinya, dan benat saja dia memulai dengan cerita2nya.
Tapi aku tidak mengerti mengapa dia tiba-tiba berubah, mungkinkah karna efek dari halangan yang sedang dia alami. Karna hal sepele tersebut.... Komunikasi kami dengan tiba-tiba menjadi kurang baik.

Padahal aku begitu ingin mendengar cerita dari kegiatannya, menanyakan banyak kabar tentangnya, seperti seorang yang begitu perhatian kepadanya.
Dan sore ini aku sedang menulis tentang aku dan dia, ini adalah kisah yang kutulis pertama kali, suatu saat aku harap dia bisa mengetahui apa saja perasaan yang pernah aku alami di keseharianku.